Home / Catatan / Kotolamo, Salah Satu Benteng Rimbang Baling
kotolamo - rimbang baling
Jembatan Penghubung di atas Sungai Bio yang membelah Kotolamo. (ary sandy - Hakiki)

Kotolamo, Salah Satu Benteng Rimbang Baling

Hakiki.or.id РKenegarian Kotolamo, sebuah komunitas masyarakat adat yang berada di SM (Suaka Margasatwa) Rimbang Baling. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 173/Kpts-II/1986, 6 Juni 1986 sebagai landasan awal penetapan SM Rimbang Baling mempunyai  luas 136.000,00 ha. SM Rimbang Baling merupakan habitat satwa langka dan kharismatik Sumatra. Antara lain, Harimau Sumatera, beberapa spesies kucing hutan, kambing hutan, burung rangkong, dan bunga raflesia merah putih, dll. Dengan luasan yang ada SM Rimbang Baling tidak hanya perlindungan terhadap flora dan fauna serta masyarakat sekitar tapi juga merupakan produsen oksigen dan air bersih.

Menurut sejarah, masyarakat Kotolamo berada disana jauh sebelum wilayah itu ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa, bahkan jauh sebelum Indonesia Merdeka. Para leluhur pendiri Kotolamo melakukan Sumpah Soti (Sakti) yang berisi 32 sumpah di Muara Bio yang dipercaya sebagai tempat keramat. Kotolamo pernah berpindah beberapa kali. Kebun Lada merupakan nama awal dari Kotolamo. Dari Kebun Lada masyarakat pindah menuju Batu Tunggang, sekitar 10 Km dari Kebun Lada. Lalu, pindah lagi ke Kampung Baru. Setelah pindah ke Kampung Baru, masyarakat pindah lagi ke kampung lama mereka, yaitu Kebun Lada. Dan mulai saat itu Kebun Lada disebut sebagai Kotolamo hingga saat ini.

Berdasarkan wilayah adatnya, Kenegarian Kotolamo berada didalam Kekhalifahan Ludai. Komunitas adat Kenegarian Kotolamo masih menjungjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya mereka. Struktur adat dan Hukum adat masih sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya. Kotolamo dipimpin oleh Datuk Pucuk Nagari atau Datuk Bandaro. Dibawahnya ada Datuk Paduka Besar dan empat dubalang, yaitu Datuk Domanso, Datuk Marajo, Datuk Tumenggung dan Datuk Sinomangkuto. Suku pendiri Kenegarian Kotolamo adalah suku Datuk Bandaro, berikutnya suku Melayu, suku, Domo, Melayu Ulak, Paliang Bukit, dan Paliang Bawah.

kotolamo - rimbang baling
Peta Wilayah Adat Kenegarian Kotolamo yang dibuat secara partisipatif oleh Hakiki dengan Masyarakat Kotolamo.

Musyawarah adat menjadi agenda tahunan yang selalu dilakukan untuk membahas berbagai masalah masyarakat. Khususnya terkait permasalahan adat. Hukum adat juga dibahas dimusyawarah tahunan ini sesuai dengan permasalahan yang terjadi di desa. Prosesi-prosesi adat juga masih dilakukan dan diterapkan, seperti Lubuk Larangan, upacara pernikahan adat, dll. Jika ada yang melanggar hukum adat, masyarakat juga menggelar musyarawah (sidang) adat terkait pelanggaran yang terjadi.

Hidup diantara Suaka Margasatwa seperti memenjarakan mereka diantara perlindungan flora dan fauna Rimbang Baling. Akses transportasi, listrik, dan komunikasi menjadi tantangan sehari-hari masyarakat Kotolamo. Jalan darat mereka dipisahkan penyebrangan yang belum ada jembatannya. Masyarakat Kotolamo melalui akses darat ke desanya dengan menyebrang lewat desa Pulau Pencong. Dari Pulau Pencong jalan darat bisa diakses menggunakan sepeda motor atau mobil. Tapi harus hati-hati, karena kondisinya sangat parah. Jalan berlubang, berkelok, terjal, berbatu, pasir dan lumpur menjadi tantangan untuk dilalui sampai ke Kotolamo.

Belum lama ini masyarakat Kotolamo mendapat bantuan pembangunan PLTMH (Pembangkit Listrik Micro Hidro) dari PLN. Sudah Beroprasi, namun dayanya tidak cukup menerangi seluruh desa. Sore sekitar pukul 16.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB malam listrik bisa menerangi warga. Itu pun tidak jarang volatasenya turun dan mati karena tidak sanggup menyuplai seluruh kebutuhan listrik di Kotolamo. Jaringan seluler pun susah didapat di Kotolamo, masyarakat harus mendatangi bukit yang disinggahi sinyal seluler untuk berkomunikasi.

kotolamo - rimbang baling
Abdon Nababan (Pegiat Pendampingan Masyarakat Adat) menggendong Ikan Barau besar, salah satu hasil lubuk larangan yang sedang di panen oleh para warga Kenegarian Kotolamo beberapa waktu lalu. (foto : rumah budaya sikukeluang)

Dari beberapa tantangan yang dihadapi masyarakat Kotolamo diatas. Ekonomi juga menjadi pokok masalah disana. Sebagian besar komoditi masyarakatnya adalah karet. Tidak seperti perkebunan karet dengan hamparan yang luas, Masyarakat KotoLamo menanam pohon karet diantara tanaman disekitar wilayah adat mereka. Dari sisi produktifitas tentu ini tidak seperti pola perkebunan karet. Karena masyarakat harus menakik karet mereka yang tersebar dengan berjalan atau melalui sungai. Ditambah lagi dengan harga karet yang murah saat ini.

Dibeberapa daerah lain, masalah-masalah diatas menjadi alasan masyarakat membuka peluang untuk menjual lahan mereka ke pemodal. Hingga lahan masyarakat sendiri habis dikuasai pemodal dan masyarakat hanya menikmati keuntungan sesaat dari menjual lahan mereka. Kotolamo sangat riskan untuk terjadi penjualan lahan seperti itu. maka diperlukan langkah-langkah yang bisa membuat masyarakat agar tidak tergiur menjual lahan mereka ke pemodal.

Hakiki bersama masyarakat Kotolamo sudah melakukan pemetaan wilayah adat secara partisipatif. Hakiki mendorong pengakuan hak-hak masyarakat adat di Kenegarian Kotolamo melalui penguatan kelembagaan, dan tata kelola sumberdaya alam yang berkelanjutan. Sebagai Masyarakat Adat yang sudah berada diwilayah adat mereka sebelum Indonesia Merdeka, Diharapkan masyarakat Kenegarian Kotolamo memperoleh kembali hak mereka sebagai Masyarakat Adat yang telah dirampas. (AS)

 

Check Also

kawasan strategis nasional

Kawasan Strategis Nasional Hutan Lindung Mahato serta Kawasan Strategis Nasional Hutan Lindung Bukit Batabuh dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Hakiki.or.id – Satuan Kerja Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Sumber Daya Air Provinsi Riau, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>