Home / Catatan / Genderang Perang Sang Datuk Anak Talang
anak talang, talang mamak
Memandang panorama perambahan hutan adat dari Bukit Tengkorak, Desa Anak Talang, Kec. Batang Cenaku, Kab. Indragiri Hulu, Sabtu/23/03/2013. (hakiki.or.id)

Genderang Perang Sang Datuk Anak Talang

Hakiki.or.id – Genderang Perang Sang Datuk Anak Talang – Pagi itu di kaki langit tampak si bintang penerang mengintip separoh badan kemerah-merahan. Geraknya gontai, hingga lama kelamaan tampak bulat sempurna menyilaukan mata. Seluruh permukaan bumi ini tersiram rata, dan mulai hangat. Sinarnya melesat tak tertangkap mata. Di dedaunan, celah-celah dinding bebatuan, sinar itu sekejap menikam cencala.

Oh, rupanya drama pencahayaan itu mengakibatkan perubahan suhu. Melahirkan angin-angin kecil, menggoyang-goyangkan rerumputan padang, menyemangati dendang Serindit (Loriculus galgulus) mungil, bahkan mengayun-ayunkan batang Meranti (Shroea) tua. Itulah sebuah fragmen nan sederhana nun jauh dari gegak-gaduh kota, disuatu pagi di desa Anak Talang, Kec. Batang Tenaku, Kab. Indragiri Hulu, Riau.

Sejam lalu mata ini baru saja terbuka dari katupnya. Kami berlomba bangun pagi dengan anak pemilik rumah yang akan bergegas sekolah. Sungguh katup mata dan badan ini masih berat. Hujan malam tadi masih menyisakan dingin. Harus kutinggal juga selimut dan kasur pemberian itu. Lagian, adalah rencana keliru bila ingin bangun siang di kampung. Sungguh, itu aib.

Hendra mendapatiku di halaman rumah. Raut mukanya segar sehabis ia basuh di perigi belakang. Kali ini ia menjadi partner bertualang. Malam itu kami tidur di rumah Ujang Safri, seorang tokoh pemuda desa. Awal perkenalan kami beberapa minggu lalu di kota kecamatan, membawa saya dan Hendra melawat ketempat ini, dan ditambah godaan melancong ke hutan adat.

Pagi itu juga kami berencana menengok hulu sungai Kandis, hulu salah satu anak sungai Batang Tenaku yang berada di bukit Petimah. Disanalah hutan adat itu. Dari Ujang Safri pula kami tahu di hulu itu ada sebuah celah tebing nan elok. Sayangnya hari itu Ujang Safri berhalangan ikut sebab punya hajat mendadak. Kami malah akan dipandu langsung oleh Datuk Muslimin! Ia penghulu adat tertinggi, dengan gelar Datuk Rajo Penghulu. Sebuah kehormatan ditemani pimpinan adat, sekaligus narasumber sejarah tepat. Pagi cerah itu, beserta adik dan keponakannya, kami bertolak ke hulu dengan tiga sepeda motor.

Menuju hulu, kami butuh waktu 2 jam perjalanan. Sepanjang jalan, bayangan saya akan disambut pohon-pohon raksasa, tak kunjung tiba. Ada juga imajinasi bahwa kami akan disergap belantara gelap, berjalan dalam medan yang amat sulit. Terlebih jalanan akan berlumpur sisa siraman hujan semalam. Bayangan itu sungguh tak terwujud. Ia sirna sesaat, waktu kami berada di tengah hamparan terbuka. Kami beruntung tak bersusah-susah (atau malah merugi, atau jangan-jangan keduanya). Tak ada hutan kanopi. Jalan setapak selepas dari desa tadipun malah makin melebar dan pias-mengeras. Mana pohon-pohon raksasa itu? Ah, ada namun apa artinya bila telah rebah bersandar di tanah tak berwibawa. Semua batang-batang raksasa itu kini terkapar tiada daya. Perasaan tiba-tiba resah. Mungkin bila tanpa belukar, hamparan ini lebih mirip gurun Petra-Jordania.

anak talang
Memandang panorama perambahan hutan adat dari Bukit Tengkorak, Desa Anak Talang, Kec. Batang Cenaku, Kab. Indragiri Hulu, Sabtu/23/03/2013. (hakiki.or.id)

Setengah perjalanan yang berada sedikit di ketinggian hamparan terbuka-yang mereka namakan bukit Tengkorak-kami berhenti. Kami parkirkan sepeda motor di tepi jalan dekat sebuah rumah tua nan sunyi. Sesaat Datuk berjalan menjauh, menatap sekeliling hamparan. Cukup lama ia diam. Rasa kecewa diwajahnya tak bisa ia tutupi.

“Lama saya tak kesini. Sejak jalan ini dibuka untuk jalur lintas selatan, para penggarap baru itu terus saja ada” ujar Datuk Muslimin mendekati saya.

Mimik wajah sang Datuk makin muram menyesal. Arus migrasi masyarakat pendatang yang bermukim di wilayahnya, tak pernah sekalipun atas sepengetahuan pria 51 tahun itu. Terlebih pemukiman orang-orang yang baru datang itu, menggarap tanah-tanah ulayat dan hutan adat yang berada paling hulu.

anak talang
Tumpukan gelondongan kayu yang baru saja ditebang oleh para perambah. Kondisi ini masih terus berlangsung hingga mengancam keberadaan hutan adat Anak Talang, Sabtu/23/03/2013. (hakiki.or.id)

Menjaga wilayah adat komunitas Anak Talang seluas hampir 15.000 Ha, bukanlah urusan senang. Dari pengakuan Datuk Muslimin, dibahagian hulu ini saja mereka telah kehilangan lahan ratusan hektare dalam 5 tahun terakhir. Pohon-pohon besar akan ditebang diambil kayunya, kemudian dibakar dan lahannya dijual. Begitulah cara kerja beberapa oknum yang menurut Datuk adalah masyarakat Anak Talang sendiri. Perkara jual-beli tanah semacam ini tentu sudah sangat jamak. Skema semacam ini, juga terjadi di belahan daerah tanah air.

Datuk Muslimin menyadari pamor aturan adat dimata masyarakatnya luruh. Gelar Datuk, Batin, Pemangku, dan segala fungsi-fungsi sistem tatanan adat kini tak lebih dari sekedar panggilan saja. Lagian konsep adat kekinian cuma sebagai representasi semata. Ia hanya tampak molek kalau dipentaskan dipameran-pameran, festival budaya, atau acara sambutan-sambutan Bupati dan semacamnya. Ia sudah bukan lagi sebagai sebuah “cengkeraman” tingkah-laku dan pedoman hidup masyarakat.

“Apalagi nak kita pegang. Jangankan dengan saya, dengan adatpun sudah tak hirau orang. Untunglah kemarin ini bapak MK (Mahkamah Konstitusi) kita itu sudah mengakui hutan adat” keluh Datuk Muslimin.

Meski ia mengeluh, dibalik itu ada semangat yang masih menyala kecil. Datuk Muslimin terdorong pasca putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan sebagian uji materi UU No. 41 Tahun 1999 tentang kehutanan. Ia bahkan sudah berencana akan memasang plang penanda batas hutan adat guna perlindungan dari para perambah rasuah. Mulai dari itulah sang Datuk tegas menabuh genderang perang. Ia selalu berusaha selembut mungkin melakukan negosiasi. Meski masih banyak pihak yang tak senang, ia masih terus berjuang bersama sebagian kecil masyarakat yang masih satu visi. Termasuk empat orang anak muda yang ikut bersama kami saat itu.

anak talang, talang mamak
Fenomena Alam bukit Petimah wilayah adat Anak Talang yang pecah menghasilkan celah atau ngarai yang cukup unik. Celah ini membelah bukit Petimah terbagi dua, bahkan di dasarnya mengalir sebuah anak sungai. (hakiki.or.id)

Negeri Anak Talang sesungguhnya elok bukan buatan. Ia ada bak sebuah persembahan. Jauh dalam perasaan saya, yang saya bawa hingga pedalaman bukit Petimah. Yang saya sembunyikan dibalik celah-celah bukit pecah. Berharap semoga semangat pemuda-pemudi adat yang mulai sunyi, hidup lantang kembali mengalahkan suara si gergaji besi. (fitrah)

Check Also

kotolamo - rimbang baling

Kotolamo, Salah Satu Benteng Rimbang Baling

Hakiki.or.id – Kenegarian Kotolamo, sebuah komunitas masyarakat adat yang berada di SM (Suaka Margasatwa) Rimbang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>